Sejarah, Penanda dan Anda

Oleh : Eep Saefulloh Fatah

Setiap sejarah besar dibentuk oleh hari-hari yang biasa. Nyaris setiap peradaban besar adalah hasil kesabaran panjang, hanya sesekali saja ada interupsi revolusi. Setiap bangsa besar dibangun oleh tetesan keringat, darah dan air mata tiap orang yang namanya tak pernah diukir sebagai pahlawan dan jasadnya tak dikubur mentereng di taman-taman pemakaman.

Begitulah sesungguhnya langgam hidup. Begitulah sejatinya sejarah ekonomi dan politik sebuah bangsa terbangun. Itulah proses kebudayaan di mana saja, kapan saja.

Tetralogi Bumi Manusia-nya Pramoedya Ananta Toer menjadi menarik karena menempatkan Minke, sang tokoh utama, sebagai noktah kecil dalam arus sejarah zamannya. Sebaliknya Arus Balik, novel Pram lainnya, menjadi tak begitu menarik lantaran memosisikan Wiranggaleng, sang tokoh, sebagai sosok besar mahasakti yang menghela zamannya nyaris sendirian.

Maka, di tengah centang perenang hari-hari ini sejatinya setiap kita adalah “Minke” yang – tanpa pretensi dan ikrar – sedang membangun Indonesia dalam senyap. Diam-diam, setiap kita sesungguhnya para pembentuk peradaban.

Tetapi, setiap negeri rupanya senantiasa butuh “Wiranggaleng”. Bahkan di negeri-negeri yang berlebihan memuja ikon, sejarah pun dibonsaikan sebagai hikayat sederetan pahlawan yang wajahnya dipampang di dinding-dinding sekolah seantero negeri. Sejarah dikerdilkan sekadar semacam babak demi babak sandiwara orang-orang besar, yang namanya dielu-elukan sebagai Bapak – kenapa selalu tak ada Ibu? – Negeri.

Setidaknya, setiap zaman senantiasa butuh penanda, semacam ikon. Namun, sebuah ikon selayaknya sekadar penanda. Ia tidak dan tak akan bisa jadi representasi, wakil sahih sepenuh proses sejarah zamannya. Para ikon itu pun menjadi bagian dari simplifikasi sejarah, penyederhanaan yang kadang kala terasa berlebihan, yang ternyata kerapkali tak terhindarkan.

Setiap media massa tak bisa menghindari jebakan simplifikasi itu ketika hendak menasbihkan seseorang, satu pihak, atau sesuatu sebagai representasi sebuah tahun. Sehebat apapun penasbihan dilakukan, tetap saja hantu simplifikasi berkeliaran di pojok ruangan.

Dua tahun lalu, majalah Time keluar dari kebiasaan memilih tokoh-tokoh sebagai Person of the Year mereka. Alih-alih, mereka memampang gambar komputer di sampul majalah dengan monitor semacam cermin. Setiap calon pembaca akan melihat wajahnya sendiri terpantul dari cermin itu. Ya, Anda sendirilah yang ditokohkan oleh Time sebagai orang terpenting dalam sejarah tahun itu.

Time memang menempatkan setiap orang yang dengan beberapa jarinya meng-klik tombol-tombol pada keyboard komputer, mengakses Youtube, Google, Yahoo!, Facebook, dan situs-situs generik internet lainnya, sebagai para penentu, para pembuat sejarah. Maka, “Anda” yang ditunjuk Time pun tetap tak lepas dari simplifikasi. Sebab, di banyak tempat, sejarah dan peradaban dibangun oleh “Anda” yang bukan saja tak punya akses internet tetapi melihat komputer pun belum pernah sepanjang hidupnya.

Maka, ketika majalah Gatra memilih “Ikon Gatra 2008”, simplifikasi sejarah semacam itu jelas tak terhindarkan. Ketika para komisioner dari Komisi Pemberantasan Korupsi ditasbihkan sebagai “Ikon Gatra 2008”, kita tahu bahwa kelima “orang besar” itu sesungguhnya sekadar penanda, bukan representasi dari hiruk-pikuk tahun 2008. Tak lebih dan tak kurang.

Kelimanya, dengan peran konstitusional mereka, terus menderap maju, menunaikan pekerjaan sungguh besar dan berat di negeri semacam Indonesia. Mereka memberantas korupsi, menggiring banyak orang, termasuk besan Presiden sekalipun, menjadi para tersangka. Sebagian terbesar di antaranya mereka bui. Mereka menjadi penanda Indonesia yang sedang berbenah. Mereka mencuci piring bekas pesta para pencoleng yang berlangsung sangat panjang. Terlampau panjang.

Tetapi, itulah. Mereka bukanlah representasi. Mereka sekadar penanda. Mereka tak bisa mewakili, sekadar misal, setiap orang yang dengan liat mesti bergelut sepanjang tahun dengan krisis ekonomi beserta kesulitan hidup yang dibawanya. Mereka tak bisa mewakili setiap orang yang menjadi korban membumbungnya harga minyak dunia yang berpuncak pada Juni 2008 sekaligus korban ketidaksigapan pemerintah dalam mengatasi dampak-dampaknya. Mereka tak akan mampu mewakili setiap orang yang tetap saja menjadi korba ketika harga minyak meluncur tajam selama paruh kedua 2008.

Sebagai penanda, kelima komisioner itu tetap layak untuk menandai bahwa dekade kedua demokratisasi sudah datang dan kita mesti bertranformasi dari kerja “membongkar” menuju aksi “memasang kembali”. Mereka menandai bahwa sebuah bangunan bersih Indonesia hanya mungkin didirikan di atas fondasi bersih. Mereka menandai relevannya pertobatan nasional serta ikrar pembaruan bagi cita-cita menjemput Indonesia yang lebih baik.

Mereka adalah ikon 2008. Sementara seluruh tahun 2008 sejatinya tetap menjadi milik Anda, yang tak berpangku tangan, yang mengeluarkan tiap tetes keringat, darah dan air mata untuk membikin Indonesia terus berdiri tegak.
 
(sumber: Gatra 25 Desember 2008)


Comments
Add New Search
+/-
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
 
Advertisement

Follow Us