Eep Saefulloh Fatah

Lahir di Cibarusah, Bekasi pada 13 November. Menyelesaikan pendidikan Sarjana Strata 1 pada program studi Politik Indonesia, Jurusan Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia (UI) pada 1994. Menulis skripsi berjudul “Negara Orde Baru dan Pengendalian Konflik Politik: Studi Kasus Malari, Petisi 50 dan Tanjung Priok."

Mengajar dan Meneliti

Image Sejak masih mahasiswa, mulai 1989, menjadi asisten pengajar untuk mata kuliah Pengantar Ilmu Politik di Departemen Ilmu Politik UI. Terhitung sejak itu, sampai dengan akhir 2009, sudah menjalani aktivitas mengajar di UI selama 20 tahun.

Selain Pengantar Ilmu Politik, antara tahun 1989-2000 mengajar mata kuliah Sistem Politik Indonesia, Konsensus dan Konflik Politik serta Metodologi Ilmu Politik. Antara 2004-2009 mengajar mata kuliah Lembaga Eksekutif dan Birokrasi di Indonesia, Kekuatan-Kekuatan Politik di Indonesia, Politik di Rusia dan Eropa Timur, Globalisasi dan Politik Indonesia, dan Masalah-Masalah Pembangunan Politik: Studi Demokratisasi.

Selain itu, pernah mengajar Pengantar Ilmu Politik di Fakultas Sastra dan Fakultas Hukum UI.

Selain mengajar, sejak 1991 terlibat dalam berbagai aktivitas penelitian ilmu sosial dan ilmu politik di berbagai lembaga penelitian di Universitas Indonesia (antara lain Lembaga Penelitian dan Pengembangan Ilmu Sosial atau LPPIS dan Laboratorium Ilmu Politik yang kemudian berubah namanya menjadi Pusat Kajian Politik Universitas Indonesia).

 

Aktivitas Masa Reformasi

Mulai 1 Juli 1998 menjadi Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Utusan Golongan. Sampai dengan menyatakan berhenti pada 8 September 1998, atau sembilan pekan setelah dilantik, belum bergabung dengan salah satu fraksi dalam MPR.

Pada awal 1999 menjadi anggota Panitia Persiapan Pembentukan Komisi Pemilihan Umum (P3KPU) atau lebih dikenal sebagai Tim 11, di bawah Pimpinan almarhum Nurcholish Madjid. Tim 11 ini bertugas memverifikasi partai-partai politik calon peserta Pemilihan Umum 1999 serta mempersiapkan pembentukan KPU.

Menjelang Pemilu 1999 bersama-sama almarhum Nurcholish Madjid mendirikan Komite Pemberdayaan Pemilih (KPP) dan melakukan beragam aktivitas pendidikan politik bagi para calon pemilih Pemilu 1999. Pada masa yang sama mendirikan dan memimpin Keluarga Indonesia untuk Pemilu Damai (KIPD) yang merupakan konsorsium berbagai lembaga swadaya masyarakat atau organisasi non-pemerintah yang memperjuangkan pelaksanaan Pemilu 1999 yang damai tanpa kekerasan.

Pada tahun 1999 memperoleh Bintang Jasa Utama dari Presiden Republik Indonesia atas jasa-jasanya melakukan pendidikan politik dalam proses demokratisasi di Indonesia.

Pada tahun 2004 terpilih sebagai figur publik berbahasa Indonesia terbaik (bersama-sama antara lain dengan Susilo Bambang Yudhoyono, Nurcholish Madjid dan Yusril Ihza Mahendra) oleh Pusat Bahasa bekerja sama dengan konsorsium media massa.

Pada Januari 2005 ikut mendirikan dan kemudian menjadi Deputi Direktur Eksekutif The Indonesian Institute sampai dengan mengundurkan diri pada 8 September 2005. Pada tahun 2006 mendirikan Sekolah Demokrasi Indonesia yang dipimpinnya hingga saat ini.

 

Memandu Acara Radio dan Televisi

Menjelang Pemilu 1999 menjadi salah satu pemandu talkshow radio tentang “Hubungan Sipil-Militer” yang disiarkan oleh Radio Delta, Jakarta. Sejak 1997 menjadi tamu atau narasumber beragam acara talkshow radio hingga sekarang.

Sejak 28 Oktober 1995 mulai menjadi tamu dalam berbagai acara talkshow di beragam stasiun TV di Indonesia hingga saat ini. Aktivitas sebagai tamu program talkshow TV ini masih dijalaninya ketika mengenyam pendidikan lanjutan di The Ohio State University (OSU), Columbus, Ohio, Amerika Serikat, yaitu dengan beberapa kali menjadi tamu talkshow Voice of Amerika (VOA) di Washington DC.

Menjelang Pemilu 1999 menjadi salah satu pemandu talkshow “Wacana Pemilu” di ANTeve. Kemudian, setelah pelaksanaan Pemilu 1999 menjadi pemandu acara “Menuju Indonesia Baru” dan “Indonesia Baru” yang disiarkan secara langsung oleh semua staisun TV Swasta (RCTI, SCTV, Indosiar, TPI dan ANTeve) setiap Selasa pukul 21.00-21.30 WIB.

Pada tahun 2005-2006 sempat menjadi pemandu acara “City View” di JAK-TV . Program ini membincangkan berbagai isu strategis yang yang dihadapi oleh para warga Jakarta.

 

Menulis

Memulai aktivitas penulisan, untuk khalayak yang masih terbatas, sejak masih di Sekolah Menengah Pertama (1979-1981). Mengelola beragam penerbitan sekolah dan kampus di SMP, SMA dan Universitas.

Mulai menulis kolom untuk media massa nasional pada 1992. Terus aktif menulis kolom di berbagai majalah dan surat kabar hingga hari ini. Pernah menjadi penulis tetap untuk rubrik “Refleksi” dan “Resonansi” di Republika, rubrik “On His Own Words” di surat kabar berbahasa Inggris The Point, dan rubrik “Perspektif” di Gatra. Mulai 2006 hingga saat ini menjadi penulis tetap untuk rubrik “Analisis Politik” di Kompas.

Selain itu, menulis kolom untuk berbagai surat kabar lain. Hingga saat ini juga aktif menulis kolom untuk majalah Tempo, termasuk untuk rubrik “Bahasa!”.

Mulai 1993 menulis artikel di berbagai jurnal, antara lain Prisma dan Jurnal Ilmu Politik. Selain itu, sejak 1994 aktif menulis dalam berbagai antologi bertemakan politik dan demokrasi di Indonesia. Hingga saat ini juga banyak menulis “kata pengantar” dan “epilog” untuk penerbitan-penerbitan bertemakan ilmu politik, sejarah, filsafat, dan sastra.

Selain itu juga cukup aktif menulis puisi dan cerita pendek. Cerita pendeknya antara lain dimuat di Kompas dan Republika serta dalam penebitan antologi cerita pendek.

Buku-buku yang sudah ditulisnya hingga saat ini adalah:
1. Masalah dan Prospek Demokrasi di Indonesia (1994),
2. Catatan Atas Kegagalan Politik Orde Baru (1998),
3. Membangun Oposisi: Agenda-Agenda Perubahan Politik Masa Depan (1998),
4. Bangsa Saya yang menyebalkan: Catatan tentang Kekuasaan yang Pongah (1999),
5. Zaman Kesempatan: Agenda-agenda Besar Demokratisasi Pasca Orde Baru (2000),
6. Menuntaskan Perubahan: Catatan Politik 1998-1999 (2000),
7. Provokasi Awal Abad: Membangun Panca Daya dan Merebut Kembali Kemanusiaan (2000),
8. Pengkhianatan Demokrasi a la Orde Baru: Masalah dan Masa Depan Demokrasi Terpimpin Konstitusional (2000),
9. Memerdekakan Rakyat, Memerdekakan Diri Sendiri : Suara Agustus 1999 (2000, bersama WS Rendra, Teten Masduki, dan Anggito Abimanyu),
10. Mencintai Indonesia dengan Amal: Refleksi atas Fase Awal Demokratisasi (2004).
11. “Biokrasi” dan Penguatan Kelembagaan Lingkungan Hidup di Daerah (2007)
12.    Konflik Manipulasi dan Kebangkrutan Orde Baru: Manajemen Konflik Malari, Petisi 50 dan Tanjung Priok (2010)


Naskah buku selanjutnya yang akan terbit “Kekeliruan-Kekeliruan Politik Yudhoyono: Kumpulan Kolom Kompas”.

 

Menggeluti Political Marketing

Mulai Maret 2000 menjadi peserta American Language Program (ALP) di The Ohio State University (OSU), Columbus, Ohio, Amerika Serikat. Di kampus yang sama, kemudian menyelesaikan program Master of Art (MA) pada Department of Political Science, OSU, dengan konsentrasi studi comparative politics dan political sociology pada 2006.

Selama menjalani studi di Columbus, Ohio, antara Maret 2000 sd Mei 2004, mulai tertarik dan mempelajari political marketing. Sekembali dari Ohio, setelah kembali beraktivitas di Universitas Indonesia (UI) sebagai staf pengajar, ikut mendirikan dan mengajar mata kuliah Political Marketing di Program Pasca Sarjana Komunikasi Politik, Departemen Komunikasi UI. Selama tahun akademik 2008-2009, menjadi koordinator mata kuliah ini.

 

Mendirikan PolMark Indonesia

Mulai Januari 2010 mengundurkan diri dari Universitas Indonesia dan menanggalkan statusnya sebagai pegawai negeri sipil. Ini antara lain berkaitan dengan berdirinya PolMark Indonesia, sebuah biro jasa layanan pemasaran politik (political marketing consulting), sejak 20 Oktober 2009.

Perintisan sebuah lembaga political marketing consulting sudah dilakukannya sejak lama. Namun, realisasi dari rencana itu ternyata membutuhkan waktu untuk mematangkan gagasan, menemukan mitra usaha yang tepat, dan mempersiapkan pengunduran diri dari status sebagai pegawai negeri sipil.

Memang aturan perundang-undangan tak melarangnya untuk tetap berstatus sebagai pegawai negeri sipil sambil mengelola usaha konsultasi political marketing. Namun, atas nama kepatutan atau etika, ia merasa akan lebih leluasa menjalankan usaha konsultasi ini bukan dalam status sebagai pegawai negeri sipil.

Pengunduran dirinya dari UI dan status pegawai negeri sipil antara lain menegaskan komitmennya untuk total mengelola PolMark Indonesia dalam posisi sebagai Chief Executive Officer (CEO). Pengunduran diri itu juga dilakukannya untuk menjaga agar PolMark Indonesia yang dipimpinnya benar-benar mampu menjaga karakter pokoknya: kompeten, profesional dan kredibel.

 
 
Advertisement

Follow Us