Sang Pemberani yang Kurang Pandai Berhitung PDF Print E-mail

Berita duka itu menghentak Indonesia di penghujung tahun lalu. Rabu, 30 Desember 2009, pukul 18.45 WIB Kiai Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, wafat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Presiden Ke-4 Republik Indonesia ini memang sudah lama mengidap sakit cukup serius, tapi kepergiannya tetap saja mengejutkan kita.

ImageGus Dur adalah Presiden pertama yang terpilih setelah Indonesia menyelenggarakan Pemilihan Umum demokratis pertamanya -- Pemilu 1999 -- selepas masa kediktatoran Soeharto. Ia dilantik sebagai Presiden pada 20 Oktoner 1999 setelah terpilih secara dramatis melalui sebuah drama politik yang mencekam Sidang Umum Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) kala itu. Namun, ia hanya bertahan 642 hari, kurang dari dua tahun, di tampuk kekuasaannya. Ia  akhirnya dijatuhkan melalui Sidang Istimewa MPR pada 23 Juli 2001.

Chief Executive Officer PolMark Indonesia, Eep Saefulloh Fatah, mengungkapkan penilaian-penilaiannya tentang warisan-warisan politik Presiden Gus Dur serta menggarisbawahi berbagai pelajaran dari masa kepemimpinan yang amat pendek namun dinamis itu. Berikut petikan wawancaranya.

 

Apa makna era kepemimpinan Presiden Gus Dur di mata Anda?


Cerita kepresidenan Gus Dur adalah sebuah cerita tragis. Gus Dur terpilih sebagai Presiden ke-4 Indonesia secara dramatis sekaligus juga dimakzulkan dari kekuasaannya secara tak kurang dramatisnya. Selepas Pemilu 1999, banyak orang menduga bahwa Megawati Sukarno Putri bakal terpilih sebagai Presiden secara relatif mudah. Pasalnya, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang dipimpin Megawati berhasil memenangi Pemilu dengan meraih lebih dari 30% suara pemilih.

Namun, ketegangan di antara kalangan partai-partai Islam dengan kalangan nasionalis, terutama PDI Perjuangan, meruncing dan membangun ketegangan tingkat tinggi. Ada semacam semangat 'asal bukan Megawati' di kalangan partai-partai Islam. Sementara itu, partai-partai Islam tak juga mampu bersepakat mengenai tokoh alternatif yang hendak mereka ajukan berhadapan dengan Megawati.

Di tengah situasi pelik itulah mencuat nama Gus Dur. Poros Tengah di bawah pimpinan Amien Rais mengajukannya untuk menandingi Megawati. Sejarah lalu mencatat Gus Dur menjadi Presiden di dalam konteks itu.

Sejarah juga kemudian mencatat bahwa era kepresidenan Gus Dur bagi Indonesia adalah semacam "berkah di balik musibah". Dengan cepat Gus Dur melakukan langkah-langkah perubahan di tengah ketidakmauan dan ketidakmampuannya mengelola dukungan politik.

Kita harus mencatat Gus Dur sebagai sang pemberani yang kurang pandai berhitung. Ia mengabaikan fakta bahwa seorang presiden harus mengakomodasi kepentingan partai-partai dan kelompok-kelompok strategis yang pokok. Namun, Gus Dur mengabaikan itu untuk tujuan-tujuan realisasi agenda perubahan yang ia inginkan. Inilah "berkah di balik musibah" yang saya maksudkan.

 

Anda katakan, Gus Dur kurang pandai menghitung dan mengelola dukungan politik. Seperti apa peta dukungan untuk Gus Dur pada saat itu? Mengapa pula ia begitu cepat jatuh?

Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang didirikan dan dikendalikan Gus Dur hanya memiliki kekuatan sekitar 12%. Sama sekali tak memadai untuk membentuk pemerintahan.

Namun berkat penggabungan kekuatan partai-partai kalangan Islam (PKB, PAN, PPP, PBB, dan PK), Gus Dur bisa mengalahkan Megawati dalam pemilihan Presiden di Sidang Umum MPR.

Semestinya Gus Dur sadar sepenuhnya keterbatasan kekuatan yang mendukung pemerintahannya. Semestinya ia berbaik-baik mengelola politik akomodasi terhadap partai-partai pendukungnya. Ia hanya punya modal politik amat terbatas dan karenanya harus mengelolanya dengan amat hati-hati.

Namun, secara amat sadar Gus Dur mengabaikan itu untuk tujuan lain, yaitu tujuan melancarkan semua agenda yang ada di kepalanya.

Maka, terjadilah "paradoks Gus Dur". Di satu sisi, Presiden berhasil menggerakkan perubahan-perubahan yang diagendakan. Tapi di sisi lain Presiden dengan cepat dan pasti membuang-buang dan memperkecil modal politiknya yang sudah terbatas itu.

Gur Dur misalnya senang membuat pernyataan yang menyerang kiri-kanan-depan-belakang secara rutin, terus-menerus. Terutama, dalam perbincangan dengan pers yang biasa ia lakukan setiap usah Shalat Jumat di Mesjid kompleks Istana. Setelah itu, biasanya ketegangan bahkan konflik akan mencuat menghadapkan Presiden dengan pihak-pihak yang disentilnya. Karena itulah, dalam bahasa karikatural saya senang mengistilahkan bahwa Gur Dur adalah pencipta sebuah peribahasa baru: "Carilah musuh di hari Jumat".

Gus Dur jatuh bukan karena "Bulloggate" atau "Bruneigate" yang disangkakan padanya melainkan karena kekurangpandaian -- atau tepatnya ketidakmauan -- mengelola dukungan politik.

 

Apakah ketidakmampuan mengelola dukungan politik ini merupakan sebuah sebab tunggal tanpa ada faktor-faktor lain yang juga berkontribusi pada pendeknya usia pemerintahan Gus Dur?

Saya tak pernah percaya bahwa dinamika politik bisa dibentuk oleh satu faktor tunggal. Saya tak percaya pada penjelasan deterministik yang menyatakan bahwa satu hal secara sendirian bisa menjadi penentu satu hal lainnya. Politik dan kehidupan sosial secara umum tak pernah berjalan seperti itu.

Begitu juga halnya dengan kejatuhan Gus Dur. Selain ketidakmampuan mengelola dukungan politik itu, ada setidaknya tiga faktor lain yang ikut membuat usia pemerintahan Gus Dur menjadi begitu pendek.

Pertama, karakter kepemimpinan. Gus Dur memiliki karakter yang sangat kuat. Kepercayaan dirinya juga penuh bahkan kadang-kadang surplus. Ketika faktor ini tak terkelola, maka memukul balik. Membahayakan Gus Dur sendiri.

Sebetulnya kepemimpinan yang kuat adalah modal penting bagi sukses pemerintahan. Tapi kepemimpinan bukan hanya harus kuat (strong) tapi juga baik (nice) dan benar (right). Ini saya pinjam dari tiga kriteria pemimpin yang disebut oleh Paul Keating, mantan Perdana Menteri Australia.

Gus Dur sangat kuat tapi konsekuensinya kehilangan dua karakter sisanya. Ia tak baik dan berkali-kali salah. Ini ikut memperpendek usia kepresidenan Gus Dur.

Kedua, manajemen pemerintahan. Harus diakui bahwa Gus Dur kurang telaten mengelola pemerintahan. Ia lebih sibuk menjadi pemimpin (yang sangat kuat itu) sambil abai pada tuntutan menjadi seorang manajer bagi pemerintahannya.

Pengelolaan pemerintahan centang perenang. Ketegangan dan konflik horizontal antar-menteri beberapa kali terjadi. Bahkan, yang lebih sering terjadi adalah ketegangan dan konflik vertikal antara Presiden dengan para menteri dan kemudian dengan wakil Presiden Megawati.

Catatan tentang prestasi manajerial Gus Dur sangat buruk. Menurut hemat saya, ini adalah kekurangan yang paling menonjol dalam era Gus Dur. Ini juga ikut berkontribusi pada percepatan kejatuhan Gus Dur.

Ketiga, manajemen kebijakan. Sesungguhnya Gus Dur memiliki sejumlah kebijakan baik yang sangat layak disokong. Namun, kebijakan itu dibuat tanpa skema dan perhitungan manajerial yang matang.

Gus Dur tak memiliki "ketelatenan teknokratis". Ia lebih sibuk mengagitasi publik untuk ikut terdorong ke arah perubahan yang ia canangkan. Sayang sekali, kamampuan mobilisasi intelektual Gus Dur yang luar biasa tak disokong oleh adanya kebijakan yang terukur dan terkelola implementasinya dengan baik. Kegagalan manajemen kebijakan menurut saya sangat penting peranannya dalam memperpendek usia pemerintahan Gus Dur.

Setidaknya, itulah empat faktor sangat penting yang ikut membentuk instabilitas dan usia pendek pemerintahan Gus Dur.

 

Mari kita bicara soal perbandingan sekarang. Bisakah kita menemukan pembanding atau contoh kasus lain di tempat lain yang menggambarkan krisis kepresidenan seperti yang dialami Gus Dur?

Saya tak tahu apakah ada kasus krisis kepresidenan sedramatis Gus Dur. Namun, pedanan kasus krisis kepresidenan bisa kita temukan dalam kasus-kasus Amerika Latin.

Indonesia kebetulan mengkombinasikan dua hal yang sulit dikombinasikan: sistem presidensial dan sistem multipartai. Kombinasi semacam ini, sebagaimana ditunjukkan oleh Scott Mainwaring, banyak ditemukan di Amerika Latin.

Sejumlah studi menunjukkan bahwa krisis kepresidenan hingga kejatuhan presiden di Amerika Latin dibentuk oleh empat faktor: sukses atau gagal kebijakan, ada atau tidaknya skandal besar yang melibatkan presiden, ada atau tidaknya resistensi yang kuat dari lembaga legislatif, dan ada atau tidaknya gerakan oposisi publik yang kemudian tersambung dengan resistensi legislatif itu.

Belajar dari pengalaman negara-negara Amerika Latin itu, Gus Dur semestinya bisa bertahan lebih lama. Namun, Gus Dur mempercepat kejatuhan dirinya dengan membuat dekrit pembubaran DPR-MPR yang dengan gampang bisa dikategorikan sebagai pelanggaran atas konstitusi.

 

Tadi Anda menyebutkan bahwa terlepas kemampuan manajemen kebijakan Gus Dur yang lemah sebetulnya Gus Dur memiliki kebijakan kebijakan yang bagus dan layak didukung. Bisa Anda sebut contohnya?

Ada beberapa contoh. Tapi salah satu favorit saya adalah depolitisasi tentara. Gus Dur secara berani mengandangkan tentara ke barak. Ia melakukan berbagai langkah berani yang menyulut perseteruan sejumlah tokoh tentara dengan Presiden serta di antara tokoh tentara sendiri, seperti antara Jenderal Wiranto dengan (alm) Mayjen Agus Wirahadikusumah.

Sebetulnya langkah-langkah depolitisasi tentara sudah dimulai pada masa Presiden Baharuddin Jusuf Habibie. Namun pada masa Gus Dur lah berbagai langkah dramatis dilakukan, semisal lebih memproporsionalkan peranan Angkatan Darat dibanding angkatan-angkatan lain. Ia misalnya menempatkan orang Angkatan Laut sebagai panglima tentara.

Lebih jauh, Gus Dur juga hendak men-sipil-kan institusi intelejen. Misalnya, ia berniat menunjuk tokoh sipil, aktivis yang sangat dihormati, Rahman Toleng, sebagai Kepala Badan Koordinasi Intelijen atau BAKIN. Sayangnya, niat ini bertepuk sebelah tangan antara lain lantaran resistensi yang amat besar dari kalangan tentara di kala itu. Jika saja terealisasi, ini langkah yang amat bersejarah.

Begitulah, kebijakan yang hebat kurang tersokong oleh dukungan politik, manajemen pemerintahan dan manajemen kebijakan yang layak. Kebijakan bagus tak diimbangi oleh karakter kepemimpinan dan kualitas manajerial yang layak. Yang terjadi kemudian gagal kebijakan.

Menurut saya, Presiden-presiden Indonesia setelah Gus Dur harus belajar dari banyak sekali hikmah yang terserak dari masa kepemimpinan Gus Dur. Terlepas dari berbagai kekurangannya, Gus Dur patut diteladani dalam kekuatan gagasan, ketegasan penentuan arah, dan karakter yang kokoh. Terlepas dari segenap kekurangannya, Gus Dur menorehkan banyak sekali catatan dan pelajaran penting untuk Indonesia. Kita harus belajar baik-baik padanya. (Pewawancara: Nina)

Terkait:

Analisis: Gus Dur, Kegilaan yang Kita Cintai

Data:Kinerja Presiden Gus Dur

Comments
Add New Search
+/-
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
Next >
 
Advertisement

Follow Us