Esf Report Heading
JOKOWI ADALAH GENERASI BARU PEMIMPIN INDONESIA

Pusat perhatian puluhan juta, bahkan lebih dari seratus juta rakyat Indonesia tersita oleh acara Deklarasi Pemilu Damai yang diadakan Komisi Pemilihan Umum dan disiarkan langsung beberapa stasiun televisi kemarin malam (Selasa, 3/6/2014). Salah satu bahan perbincangan publik yang ramai, terutama di berbagai media sosial, adalah penampilan berbeda Calon Presiden Joko Widodo.

Untuk memahami latar belakang penampilan berbeda Capres yang diusung PDI Perjuangan, Partai NasDem, PKB, Partai Hanura dan PKP Indonesia itu jaringan Jawa Pos, Media Indonesia bersama beberapa media lain mewawancarai Eep Saefulloh Fatah, mewakili Jenggala Center yang merupakan salah satu posko pemenangan Capres Joko Widodo dan Cawapres Jusuf Kalla.

Berikut adalah transkrip wawancara tersebut.


 
Indonesia Mencari Wapres

Oleh Eep Saefulloh Fatah

Setiap zaman punya kecemasannya sendiri. Setiap kecemasan punya zamannya sendiri. Begitulah, di masa Orde Baru banyak orang cemas bahwa  Presiden (Wapres) hanya sekadar ban serep. Hari-hari ini, sebagian orang mencemaskan kemungkinkan hadirnya Wapres yang tak sekedar ban serep. Tiba-tiba, Wapres yang berfungsi optimal m [ ... ]


 
Dampak PSBB Makin Nyata PDF Print E-mail
12 Mei 2020 - KENDATI belum maksimal, penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB),
terbukti memberikan dampak positif yang makin nyata untuk menekan penularan virus covid-19. Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo menyatakan daerah-daerah yang menerapkan PSBB mengalami perkembangan yang cukup bagus.

Pernyataan itu diungkapkan Doni seusai rapat terbatas percepatan penanganan pandemi covid-19 melalui video conference yang dipimpin Presiden Joko Widodo, kemarin. Dia memberikan contoh DKI Jakarta yang pada awal April lalu menyumbang 50% kasus secara nasional, pada awal Mei setelah menerapkan PSBB, kontribusinya turun menjadi 39%.

 Doni pun meminta daerah-daerah lain yang mengalami peningkatan kasus positif segera mengajukan PSBB kepada Menteri Kesehatan. “Kita harap daerah yang berinisiatif. Dengan begitu, mereka bisa mempersiapkan diri, melakukan koordinasi dengan jauh lebih baik,” ujarnya. Langkah tersebut, imbuh Doni, harus dilakukan supaya tidak terjadi pengalihan kasus dari yang semula menumpuk di satu daerah menuju daerah lain yang belum mencatat banyak kasus.

Dia mengakui memang ada tren peningkatan kasus positif covid-19 dan peningkatan terbesar terjadi pada Sabtu (9/5) yang mencapai 533 pasien baru. Namun, menurutnya, hal itu karena pemerintah melakukan tes massal dalam jumlah yang kian besar setiap hari.

“Konfirmasi positif meningkat karena kemampuan kita untuk mengetes juga semakin besar. Kalau tiap hari angka pengetesan banyak, sangat mungkin konfirmasi positif banyak,” terang Doni.

Kendati demikian, Doni mencatat penderita yang dirawat di rumah sakit terus mengalami penurunan sehingga tidak ada lagi fasilitas kesehatan yang kewalahan.

Di RS Fatmawati Jakarta, misalnya, dari 80 tempat tidur yang disediakan, hanya terisi 22. Di RS Angkatan Laut Mintoharjo juga hanya diisi 18 pasien dari kapasitas tampung 58. ‘’Ini menunjukkan pasien sembuh semakin banyak dan semakin sedikit pasien yang mengalami gejala berat dan butuh perawatan intensif.’’

Saat memimpin rapat terbatas, Presiden kembali meminta agar kecepatan dan kapasitas pengujian spesimen covid-19 dengan metode PCR terus ditingkatkan. Berdasarkan laporan, kemampuan pengujian saat ini berada pada kisaran 4.000-5.000 sampel per hari. “Ini masih jauh dari target yang saya berikan, yaitu 10.000 spesimen per hari,” ujarnya.

Sebanyak 104 laboratorium di seluruh Indonesia sebenarnya telah disiapkan untuk bisa menampung dan memeriksa hingga 10 ribu spesimen per hari. Namun, pada kenyataannya, baru 53 laboratorium yang dimanfaatkan untuk melakukan pemeriksaan.

Perbaiki koordinasi

Sementara itu, Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat meminta pemerintah memperbaiki koordinasi antara kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah untuk menghilangkan hambatan birokrasi dalam setiap kebijakan penanganan covid-19. Menurutnya, hambatan koordinasi makin tampak.

“Upaya untuk memperbaikinya harus dimulai dari pimpinan negara. Daerah sampai pimpinan kementerian dan lembaga harus punya leadership yang kuat dan efektif menerapkan koordinasi,’’ kata Rerie, sapaan Lestari.

Kegagapan pemerintah pada awal wabah covid-19 masuk ke Indonesia, imbuh legislator Partai NasDem itu, seharusnya menjadi pelajaran bersama di pemerintahan. Di tengah ketidakpastian dampak pandemi covid-19, tidak ada waktu lagi bagi pemerintah dan rakyat untuk berdebat soal makna dari sebuah kata.

Karena itu, tidak boleh ada lagi pemimpin yang mengeluarkan pernyataan multitafsir dan menimbulkan kegaduhan. Rerie juga mendorong agar pemerintah segera melakukan tes yang masif dalam jumlah yang memadai sehingga penanganan covid-19 bisa lebih efektif
(Sumber: mediaindonesia.com)
Comments
Add New Search
+/-
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
< Prev   Next >
 
Advertisement

Follow Us