Pilkada Serentak: Presiden: Telah Ada Komitmen Partai PDF Print E-mail
8 Agustus 2015 - Presiden Joko Widodo menuturkan, telah ada komitmen di antara partai politik untuk mendorong munculnya pasangan calon baru di tujuh daerah yang saat ini masih memiliki satu pasangan calon. Dengan dasar ini, diyakini akan ada perkembangan positif saat Komisi Pemilihan Umum membuka kembali pendaftaran di tujuh daerah yang masih punya satu pasangan calon pada 9-11 Agustus 2015.

”Mereka sudah berkomitmen untuk mendorong pasangan calon kepala daerah lebih dari satu,” kata Presiden, di Jakarta, Jumat (7/8).

Tujuh daerah yang saat ini masih memiliki satu pasangan bakal calon adalah Kabupaten Tasikmalaya (Jawa Barat), Kota Samarinda (Kalimantan Timur), Kabupaten Timor Tengah Utara (Nusa Tenggara Timur), Kota Mataram (Nusa Tenggara Barat), serta Kabupaten Blitar, Kabupaten Pacitan, dan Kota Surabaya di Jawa Timur.

Terkait dengan komitmen untuk memunculkan pasangan baru di tujuh daerah itu, sejumlah partai terus menjalin komunikasi. Ketua Dewan Pimpinan Daerah Partai Demokrat Jawa Timur Soekarwo mengatakan, komunikasi untuk memunculkan calon baru di tiga daerah di Jawa Timur yang kini masih memiliki satu pasang bakal calon tidak hanya dilakukan ke parpol, tetapi juga ke keluarga dan bakal calon yang bersangkutan.

”Kami menamakan komunikasi itu dengan koalisi Jawa Timuran, tidak ada KIH (Koalisi Indonesia Hebat) dan KMP (Koalisi Merah Putih) di sana,” kata Soekarwo.

Sekretaris Jenderal Partai Nasdem Patrice Rio Capella mengatakan, pihaknya sedang mendorong partai lain mengusung calon bersama Nasdem di Timor Tengah Utara. Kini hanya ada pasangan bakal calon Raymundus San Fernandes-Aloysius Kobes yang diusung PDI-P di daerah itu.

”Sebenarnya 11 parpol di luar PDI-P sudah mengajukan pasangan bakal calon, ada surat keputusannya. Namun, di saat-saat terakhir pendaftaran, calonnya hilang,” tutur Rio.

Rio menambahkan, pihaknya akan memastikan dahulu apakah calon terkait mau diusung lagi atau tidak. ”Kalau tidak mau, masih ada calon lain yang bisa dimajukan,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua DPP Partai Golkar versi Munas Jakarta Melki Laka Lena menuturkan, Tim Islah Bersama Partai Golkar yang dikenal dengan sebutan Tim 10 pada Kamis malam telah merundingkan keputusan KPU yang membuka kembali pendaftaran di tujuh daerah yang membuka pendaftaran. Golkar juga telah berupaya membangun komunikasi dengan partai lain.

”Kami mengamati, misalnya, ada calon dari Golkar mundur pada saat terakhir di Pacitan, yakni Agus Effendi. Kami sedang mendekati calon bersangkutan, tetapi memang sejauh ini belum ada keputusan terakhir yang hendak diambil,” ungkap Melki.

Menurut dia, dua kubu Golkar juga telah berkomunikasi terkait nama calon wali kota Surabaya. ”Namun, kami belum sepakat dengan nama calon yang sama,” katanya.

Menurut fungsionaris PDI-P, Arif Wibowo, komunikasi dengan partai lain masih dilakukan untuk memunculkan bakal calon baru di tujuh daerah yang baru punya satu pasang bakal calon.

Ketua DPP Partai Amanat Nasional Yandri Susanto mengusulkan Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo menginisiasi pertemuan semua ketua umum partai politik sebagai upaya mendorong partai untuk menjalankan tanggung jawabnya mengusung calon pada pilkada. Pada pertemuan itu pula, dia menganjurkan ada semacam pakta integritas yang ditandatangani semua ketua umum partai.

Pragmatis

Pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Siti Zuhro, melihat kontestasi di tujuh daerah yang kini masih memiliki satu pasang bakal calon mulai menjurus pada kontestasi yang tidak sehat.

Dihadapkan pada lawan yang tangguh, partai lebih memilih tidak mengajukan pasangan calon. Mereka sadar, dengan sikap itu, pilkada berpotensi ditunda hingga tahun 2017. Jika pilkada ditunda, potensi calon yang diajukan oleh partai lebih berpeluang menang daripada jika mengajukan calon pada pilkada tahun ini.

”Partai cenderung pragmatis dan oportunistis. Partai juga punya mental kalah, mudah loyo saat lawannya tangguh,” ujar Siti. Padahal, jika melihat pengalaman pilkada selama ini, tidak selamanya lawan yang dinilai tangguh bisa memenangi pilkada. Pilkada DKI Jakarta 2012 contohnya. Calon Gubernur petahana Fauzi Bowo disebut-sebut memiliki elektabilitas tinggi dan sulit dikalahkan. Namun, ternyata Joko Widodo, yang kini Presiden Indonesia, memenangi Pilkada DKI. (Sumber: Kompas)

 

Comments
Add New Search
+/-
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
< Prev   Next >
 
Advertisement

Follow Us